Cerita Tentang Sesuap Nasi






Dalam satu hari ada 3 waktu yang tidak boleh terlupa, Pagi hari, Siang hari, dan Malam hari. Ada makan pagi yang biasa kita sering mengucapkannya dengan sarapan, lalu ketika siang kita akan mengucapkan makan siang atau bahasa Inggrisnya ‘lunch’ dan yang terakhir ada makan malam atau yang sering kali kita ngajak atau diajak gebetan buat ‘dinner’.

Sebagai manusia saya percaya kita akan lewati 3 waktu itu, waktu makan lebih tepatnya. Orang tua yang anaknya diperantauan pasti bakalan terus ngingetin “ kamu sudah makan? “ “ tadi sudah makan belum? “ “ makan apa hari ini ? “ dan lain sebagainya. So? Apa ketika kamu baca tulisan ini kamu sudah makan sebelumnya?

Beberapa minggu yang lalu ada suatu kegiatan yang saya ikuti. Suatu kegiatan yang sangat menarik dan memberikan saya banyak pelajaran. Satu pelajaran yang akan saya share ditulisan saya kali ini adalah tentang ‘ bagaimana kita menghargai makanan ‘.

nasi putih bikin gemuk malah bikin aku banyak bersyukur
Nasi Putih, Foto Dari Google


Siapa yang diantara kalian kalau ada makanan yang kiranya nggak pas dihati atau nggak cocok bakalan kalian ga makan atau bahkan dibuang? Hayoo ngaku aja! Saya pun juga pernah berlaku demikian. Ketika di kegiatan yang saya ikuti waktu itu pun saya juga melakukannya!

Pada waktu itu kami ada di suatu pantai, saya di bagikan nasi bungkus oleh tim untuk makan malam, awalnya perut yang sudah menagih untuk di isi sudah senang sekali ketika tahu ada nasi bungkus di dalam tenda. Dengan semangat saya buka dan melahapnya *kayaknya tanpa berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan. Satu suap, dua suap. Dirasa-rasa lauk di nasi bungkus ini hambar sekali, seperti makan tanpa bumbu. Dilihat-lihat nasi bungkus ini isinya seperti nasi pecel, tapi kok nggak ada bumbu pecel? Di pikir-pikir kok tambah nggak enak, makin lama makin nggak enak dimakan. Akhirnya saya putuskan untuk membuang nasi bungkus itu dan membeli mie instan di warung terdekat.

Singkat cerita saya bertemu dengan seorang teman, saya panggilnya kakak Len, gambaran sekilas mengenai teman saya ini.. Ia seorang perempuan, saat saya berkenalan dengannya ia masih seorang mahasiswi tingkat akhir yang sibuk dengan skripsinya. Ia orang perantauan, tinggal jauh dari orang tua, dan ia disini sendirian, - kos -. Oke begitulah kurang lebih. Hmmm, sayangnya kalau saya menilai teman saya ini bukan dari kalangan tidak mampu, ia cukup berada, bahkan saya rasa ia cukup untuk memilih makanan sama seperti yang saya lakukan, *bukan berarti saya termasuk orang berada. Setidaknya kakak Len jauh lebih berada begitulah.

Kami sama-sama di warung dekat pantai itu, bedanya saya usai makan mie dan kakak Len rupanya baru saja dapat jatah nasi bungkus dari tim. Awalnya saya hanya diam saja memperhatikan, kenapa kakak ini begitu lahap makan nasi yang buat saya hambar? Saking penasarannya saya pun bertanya..

“ enak mbak? Nggak hambar? “

Disini jawaban kakak Len membuat saya kaget dan nggak tahu harus menjawab apa~ saya cuma bisa diam dan diam.

“ Hambar sih, tapi gimana sayang dibuang, aku nggak bisa buang makanan karena diluar sana masih banyak yang nggak bisa makan, jadi selama nggak busuk atau bau, pokoknya masih bisa dimakan, aku makan. “ Jlebbbb

Jawaban kakak Len langsung mengena di hati saya dan membuat saya sadar, bahwa yang saya lakukan sebenarnya salah. Rupanya saya masih kurang bersyukur. Harusnya saya banyak-banyak bersyukur karena diluar sana masih banyak orang yang ingin makan, membutuhkan makanan, tapi nggak bisa makan. Harusnya saya bersyukur! Tapi saya malah membuang –buang makanan.

BACA JUGA : TEMPAT NYALON DI SOLO RECOMMENDED!

Sayangnya meski sudah jleb dihati tetap saja masih belum bisa saya bersyukur *maksudnya sudah bersyukur sekali dua kali ketiganya balik lagi. Besoknya tim memberikan saya nasi bungkus lagi dan kembali saya makan mie instan lagi *tapi kali ini nasinya saya makan meski tidak semua.

Pelajaran kedua:

Masih sama tentang nasi, tapi kali ini lebih ke beras. Beberapa hari yang lalu saya mendapati kunjungan seorang teman dari daerah, ia menginap karena hari sudah larut, kasian juga kalau ia harus melakukan perjalanan jauh *pulang kerumahnya maksudnya, rumahnya ada di daerah. Ia pun menginap di kosan saya. Dengan senang hati saya menyambutnya.

Kala sendiri, jarang saya makan nasi, tapi karena waktu itu ada kawan, akhirnya saya masak nasi dan beli lauk untuk makan. Singkat cerita ia melihat bagaimana saya memasak, saya menggunakan Rice Cooker untuk memasak, saya sedia beras yang kualitasnya lumayan sehingga ketika hasil dimasak enak dimakan dan warnanya juga putih bersih. Lalu teman saya bercerita bagaimana keadaan di rumahnya.

“ Ahhh, aku juga pingin beli rice cooker kayak gini fan,, berapa harganya? Mahal to? “ katanya ketika melihat saya memasak menggunakan rice cooker.

“ Wihh berasmu kok bersih fan? Beda kayak beras ku dirumah “ Katanya ketika melihat aku mengeluarkan beras.

“ Berasnya nggak kayak beras ku dirumah, kalau dirumah aku pakai beras subsidi dari pemerintah “ Katanya lagi. Aku pun karena penasaran bertanya,

“ memang apa bedanya mbak? “

“ Beda fan, warna beras dan rasa nasinya beda. Kamu beli pasti mahal ya? “

Saya cuma bisa diam dan membatin, disitu Saya merasa sedih, ingin menangis rasanya. Baru saya sadari betapa besar kasih saya ibu saya pada saya. Beras itu dibeli oleh ibu ketika mengantarkan saya untuk kembali keperantauan. Ibu yang bilang kepada penjual untuk beli beras yang kualitasnya bagus. Tapi malah saya jarang makan, di kos saya malas sekali masak dan makan, jadi saya lebih banyak jajan atau kadang memilih untuk tidak makan.

Akhirnya saya sadar bahwa saya sepertinya kurang banyak bersyukur. Sangat kurang malah.

Diluar banyak orang yang susah mencari beras dan menginginkan sesuap nasi saja susah sekali dapatnya, saya justru malah membuang-buang apa yang saya miliki. Harusnya saya bersyukur karena Tuhan masih baik pada saya.

Jadi… ketika saya melalui beberapa perenungan itu, saya kembali kepada sang pencipta dan mulai mensyukuri apa yang saya miliki hari ini.

Singkat saja untuk akhir postingan kali ini, Sudahkah kalian bersyukur untuk kemarin, hari ini, dan esok? Tuhan Memberikati.