Senyum Manis Dari Mata Sipit






Ternyata tubuh ini tak mengizinkan ku untuk beristirahat. Jari jariku dengan luwes mengarahkan kursor ku untuk membaca postingan postinganku sebelumnya. Nggak kerasa aku pernah jatuh cinta diam diam dengan Mas Lempuyangan. Nggak kerasa aku pernah menulis kata demi kata untuknya dan kini rasanya aku ingin kembali menulis untuk si Manis dari Mata Sipit.

Senyum Manis Dari Mata Sipit
sumber: GOOGLE


Masih ku ingat pertemuan pertama kita ketika aku menunduk malu malu. Aku ragu untuk melihat sekitarku dengan kepala terangkat. Aku hanya berani menundukkan kepala dan kemudian merenung. Hmm. Ya cuma itu. Kemudian kamu datang setelah beberapa orang mencoba berkenalan denganku. Memang kamu tidak bertanya tentang apapun tapi kamu memberikan senyuman yang hangat dan manis, dan.. dan.. mata sipit mu itu jadi makin sipit ketika kamu tersenyum. Ahh aku jadi adem liatnya.

Singkat cerita kita kembali bertemu. Aku nggak tahu kamu siapa dan aku nggak ingat siapa namamu padahal sebelumnya sepertinya kamu sudah memberi tahu siapa namamu. Kita kembali bertemu di suatu villa, rupanya kamu sudah lebih dahulu sampai ke villa itu. Lagi lagi kamu memberikan senyum patenmu. Kamu menyambutku dan juga beberapa kawan lain dengan hangat. Tapi hatiku nggak mudah luluh begitu saja. Aku hanya bisa memperhatikanmu.

Selama di suatu acara itu akhirnya aku tahu kamu adalah panitia. Kamu ikut andil mengurus beberapa hal. Jadi sudah menjadi hal yang wajar juga kalau kamu datang lebih awal. Kemudian aku berpikir nakal, kira-kira kamu sudah punya cewek belum ya(?) takut takut aku membuka profile linemu, aku mencari dan kemudian ku dapatkan. YA kamu sudah punya pasangan. Akhirnya aku putuskan untuk tidak terlalu memikirkanmu. Lagian aku tidak ingin kembali tersakiti hanya untuk perasaan yang nggak jelas.

Tapi sikapmu membuatku makin penasaran. Saat makan malam pertama waktu itu.. Kamu padahal yang datang duluan malah nggak makan duluan, tapi mempersilahkan yang lain untuk makan dahulu. Diam diam aku jadi memperhatikanmu. Aku memperhatikan segalanya hingga di hari terakhir kamu masih bersikap sama, yaitu mempersilahkan semua orang makan dahulu baru kemudian kamu makan. Hmmm memang apa yang kamu takutkan atau pikirkan? Aku jadi bertanya tanya bagaimana kepribadianmu sebenarnya.

Sayangnya meski kamu membuatku tertarik kamu tidak membuatku berdebar. Aku hanya tertarik karena kamu memiliki senyum yang hangat dan juga mata sipit yang aku suka. Wajahmu itu memang tipeku banget, sesuatu yang nggak pasaran dan yaudalah tidak bisa aku jelaskan dengan detail. Intinya aku masih memperhatikan mu hingga kita berpisah.

Jauh sebelum berpisah, di hari hari saat kita bersama atau saat menjelang akhir acara aku semakin memperhatikanmu. Mata ku selalu berusaha mencari dimana kamu berada. Nggak susah untuk mencarimu karena kamu pakai baju yang cukup unik. Jaket tapi lengannya Pendek hehe. Nggak kebayang apakah kamu nggak kedinginan? Tapi wajahmu tak memperlihatkan itu. Hingga..

Aku baru tahu wajahmu keras. Sejak awal aku sudah bisa menilai kalau kamu memang tipe orang yang keras. Kamu tipe orang yang mudah marah. Menjadi pasanganmu berarti seseorang yang harusnya lawan dari sifatmu. Atau mungkin bisa sih sama asal kalian bisa saling mengerti. Saat hari terakhir, kamu memimpin suatu pertemuan kemudian kamu menjelaskan dengan wajah yang benar-benar lelah tapi ingin kamu tutupi. Wajahmu menjunjukkan kekesalan dan campur dengan lelah. Beberapa orang mungkin ada yang memperhatikan hingga bertanya kamu kenapa (?) lalu ku dengar ada yang menjawab bahwa kamu sedang tidak baik dengan pasanganmu. Entah apa yang kamu rasakan tapi aku hanya menebak nebak saja, mungkin biasa la namanya juga orang menjalin hubungan, pasti bakalan ada saja kerikil kerikil.

Sebenernya saat di acara itu sebisa mungkin aku menepis untuk terlibat secara emosional denganmu. Aku takut untuk jatuh hati denganmu atau siapapun. Jadi aku membentengi diriku. Tapi senyum manis dari mata sipit mu itu nggak bisa aku lupakan. Rasanya sudah paten dan nggak bisa  aku lupa. Rasanya juga.. Memang kamu orang yang ramah. Pada semua orang kamu berikan senyum itu.

Ah yahh.. Aku baru sadar, kamu beberapa kali mengajak ku untuk berbicara tapi aku mengabaikan. Aku ragu untuk memulai percakapan atau melanjutkan percakapan denganmu jadi aku menjawab apabila perlu untuk di jawab. Lalu aku pergi apabila aku harus pergi. Sampai kemudian kita bertemu kembali di suatu malam dan seperti biasa kamu tersenyum sambil memintaku untuk menjawab beberapa pertanyaanmu. Sebenarnya nggak meminta yah tapii ah sudahlah kita hanya ngobrol biasa kok.

Aku bersyukur sih waktu itu aku datang awal kemudian kamu datang akhir dan akhirnya kamu duduk di sampingku. Aku jadi bisa melihatmu bicara di sampingku. Aku bisa memandangmu dengan lebih dekat dan memperhatikan wajahmu. Ahhh.. tapi kok aku nggak ada perasaan apa-apa ya? Padahal biasanya aku sudah salah tingkah apalagi kalau tahu kamu semakin bergeser dan semakin bergeser duduknya. Ihhh jadi makin gimana gitu. Tapi seperti aku bilang dari awal, aku mungkin hanya tertarik dengan mu. Kamu sendiri sudah memiliki pasangan dan aku pun nggak minat dengan hubungan yang lebih dari teman. Jadi yauda aku anggap lalu aja.

Sayangnya meski begitu aku masih memikirkanmu dan akhirnya aku sadar kalau aku juga berharap meski sedikit sih.. Aku berharap untuk bisa mengenalmu dan bicara denganmu.

Ah sudahlah.. Entah juga apa yang aku tulis kali ini. Rasanya nggak dari hati yang paling dalam jadi aku kurang merasakan perasaan yang menggebu. Mudah mudahan hari ini kita dapat bertemu lagi. Atau lebih baik tidak usaha saja?


- MEY SUB , Perenungan Singkat - 

Postingan Populer